[ad_1]

Heridon, Ketua RW 13 Perumahan Kemang Pratama 3 mengatakan penerapan kartu akses perumahan sebenarnya sudah berlangsung sejak 2017. Namun kala itu kartu yang digunakan (RFID) hanya sebatas akses keluar masuk, tanpa menginput data warga yang bersangkutan.

“Kalau sekarang siapa yang keluar masuk baik itu warga Kemang 3, warga luar yang sudah daftar atau yang tamu, Gojek, Gosend, itu terdata semua dalam sistem kita,” kata dia.

Karenanya ia menolak tudingan yang menyebutkan kartu akses Kemang Pratama 3 yang sekarang diberlakukan, memiliki sistem keamanan yang minim.

“Jadi siapa pun yang masuk ke Kemang 3 akan terdata. Juga lebih memudahkan warga, keluar masuk tinggal klik (tempel kartu), nggak ada hubungan dengan satpam begitu,” ucapnya.

Selain itu, sebelum memutuskan kebijakan menutup akses gerbang, Heridon mengaku telah mengantongi SK Wali Kota Bekasi sebagai payung hukum. Dalam SK disebutkan, bahwa Pemkot Bekasi menyerahkan pengelolaan fasos fasum kepada forum RW Kemang Pratama.

“Itu pengawalannya diserahkan ke masing-masing RW. Berarti kami berhak dong mengelola seperti apa fasos fasum yang ada di lingkungan kami,” ujar dia.

Diakui Heridon, penutupan akses keluar masuk Kemang 3, awalnya juga didorong imbauan Pemkot Bekasi tentang penerapan PSBB di masa pandemi. Karenanya pihak RW setempat berinisiatif menutup pintu Narogong, namun untuk pintu Pekayon tetap buka.

Untuk tiga pintu perkampungan yang kemarin sempat didemo warga, juga tidak ditutup mati. Pejalan kaki masih bisa melintas, namun tidak dengan yang membawa kendaraan.

“Karena kami butuh orang-orang kampung, dan orang-orang kampung juga butuh kami untuk bekerja di sini,” jelasnya.

 

[ad_2]

Berita hari ini akurat dan terpercaya temukan di NewsFor.ID Berita Untuk Indonesia.

News For Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here