[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Peneliti dari The Australian National University,  Ines I Atmosukarto, mengungkapkan, ada hal yang paling banyak disoroti dalam pengembangan vaksin COVID-19. Hal itu adalah protein spike yang menjadi fokus para peneliti.

“Karena protein spike merupakan protein yang menutupi permukaan virus. Dan, protein ini sebenarnya digunakan virus Corona sebagai kunci untuk membuka pintu terhadap kejadian infeksi, terutama menginfeksi sel-sel dalam saluran pernapasan,” jelas jelas Ines dari John Curtin School Medical Research dalam sesi webinar Apa Kabar Vaksin COVID-19? pada Rabu (10/6/2020).

“Dari 20 persen kasus COVID-19, misalnya, termasuk pasien yang memerlukan perawatan rumah sakit secara intensif. Ini dikarenakan virus Corona yang menggunakan protein spike, lantas menempel pada sel tubuh menyebabkan bisa terjadinya inflamasi (peradangan) pada paru-paru.”

Akibatnya, pasien COVID-19 didera badai sitokin. Artinya, sistem kekebalan tubuh sendiri yang akhirnya menyebabkan kerusakan pada berbagai organ, di antaranya jantung dan penggumpalan darah pada sistem organ tubuh. Pasien dapat mengalami infeksi parah, yang berujung pada sulit bernapas.

“Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 Ini bisa juga cukup parah. Oleh karena itu, diperlukan adanya vaksin untuk melawannya,” lanjut Ines.

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here