[ad_1]

Konfirmasi pengamatan dilakukan dengan teleskop radio lain, sehingga mereka dapat saling menilai dan memastikan bahwa mereka tidak mengambil sinyal buatan manusia di Bumi. Ketika alat penerima yang berupa antena sudah menentukan sumbernya bukan berasal dari Bumi, masih ada tahap lain berupa instrumen tambahan yang membuat duplikasi sinyal dan menganalisis dengan sebuah proses ilmiah.

Faktanya, sinyal yang sebenarnya dicari oleh para pemburu dan ilmuwan SETI hari ini tidak kompleks seperti yang diasumsikan oleh para pakar matematika. Mereka tidak mencari pesan dengan kode yang rumit, hitungan matematika berlapis, atau bahkan versi bahasa-bahasa alien.

Instrumen yang ada saat ini sebagian besar tidak sensitif terhadap modulasi atau pesan yang mungkin disampaikan oleh siaran luar angkasa.

“Sinyal radio SETI dari jenis yang benar-benar bisa kita temukan adalah bunyi seperti peluit pita sempit yang persisten,” tutur Venzha.

Ia mengungkapkan para ahli memandang fenomena sederhana seperti itu tidak memiliki tingkat struktur berdasarkan sains yang kuat, meskipun sangat mungkin sinyal itu berasal dari sebuah planet yang sangat jauh tempatnya.  Jadi, sampai saat ini telah dibangun antena-antena raksasa yang lebih sensitif dan lebih akurat untuk meneliti dari mana asal sinyal-sinyal unik itu.

Menurut Venzha, tanda-tanda kehidupan ekstraterestrial (ET) bisa dicari dengan menangkap komunikasi radio yang datang dari luar Bumi. Mengapa menggunakan teknologi radio? Jawabannya, karena teknologi radio tidak hanya sebagai sarana komunikasi yang murah, tetapi juga merupakan tanda peradaban teknologi.

Peradaban di Planet Bumi ini secara tidak sengaja telah mengumumkan kehadirannya sejak 1930-an melalui gelombang radio dan siaran televisi yang melakukan perjalanan dari Bumi ke luar angkasa setiap hari dan ke segala arah.

Venzha menambahkan juga bahwa riset yang baik adalah melalui sebuah pertemuan dan percakapan, diskusi, serta pertanyaan. Riset tidak harus berbiaya besar, tapi yang terpenting adalah bahwa sebuah penelitian dan observasi membutuhkan kedislipinan dan sebuah konsistensi.

Venzha Christ sebagai Founder dari HONF Foundation (1999), v.u.f.o.c Lab (2010), ISSS (2015),  International SETI Conference (2016), dan Indonesia UFO Network – IUN (2019), aktif melakukan kerjasama di persinggungan antara seni dan sains antariksa.

Riset di ranah ini sudah Venzha dilakukan ke lebih dari 40 institusi serta lembaga penting dunia pada area Space Science dan Space Exploration. Lembaga yang dimaksud, antara lain, LHC-CERN (European Organization for Nuclear Research), NASA -AMES research center, SETI Institute-USA, Roswell, AREA 51, Griffith Observatory, CSC (Carl Sagan Center), MARS Sociery, JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency), Tsukuba Space Center, KEK (High Energy Accelerator Research Organization), J-PARC (Japan Proton Accelerator Research Complex), ELSI (Earth Life Science Institute), KAVLI IPMU (Institute for the Physics and Mathematics of the Universe), CEOU (Center for Exploration of the Origin of the Universe), CPPM (Le Centre de Physique des Particules de Marseille), IAP (The Institut d’astrophysique de Paris), Station de Radio Astronomie de Nançay, LAM (The Laboratoire d’Astrophysique de Marseille), VIRAC (Ventspils International Radio Astronomy Centre), dan IRAM (International Research Institute for Radio Astronomy).

 

[ad_2]

Berita hari ini akurat dan terpercaya temukan di NewsFor.ID Berita Untuk Indonesia.

News For Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here