[ad_1]

Meski seloko ungkapan salam sembah pada masa itu muncul bukan karena latar belakang pandemi atau suatu hal. Namun, salam sembah, menurut Nukman, relevan diterapkan pada era tatanan kehidupan normal baru, khususnya untuk pengganti jabat tangan.

“Dari ungkapan seloko tersebut, dapat dipahami salam sembah itu bukti penghormatan yang sangat santun untuk berinteraksi atau menyapa satu sama lain. Jadi untuk kaitannya normal baru, gerakan salam sembah bisa diterapkan,” ujar Nukman.

Nukman menjelaskan, dalam aktivitas tradisi atau prosesi seloko adat Jambi, misalnya saat upacara seserahan adat pengantin. Masing-masing kedua belah pihak mempelai yang diwakilkan juru bicara akan berseloko.

“Bahkan aktivitas tradisi itu terjadi, saat berseloko itu ada jarak. Dan diawali dengan salam sembah kemudian diikuti dengan ungkapan-ungkapannya,” ujar Nukman.

Dalam sebuah makalahnya, Nukman mengatakan, seloko hadir dan diciptakan para tetua Jambi dulunya, sebagai sebuah ungkapan yang bersumber dari tradisi, hukum, dan norma adat istiadat. Seloko sebagai bagian dari tradisi sehingga mempunyai peran menjadi penyadar bagi masyarakatnya.

Seloko adat tidak hanya dipakai sebagai bentuk tegur-sapa dan peringatan-peringatan semata. Namun, seloko juga telah digunakan dalam berbagai bentuk upacara kerajaan sejak dulunya.

“Seloko selain berisikan rumusan, dalil, pedoman, dan petunjuk pelaksanaan adat istiadat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Seloko juga menyiratkan beberapa hal yang berkenaan dengan beberapa konsep, seperti kesejahteraan masyarakat, doktrin, pendidikan dan keadilan,” kata Nukman.

 

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here