[ad_1]

Wilayah ini memiliki akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat sehingga memberikan pilihan bagi para pengunjung yang datang untuk mencapai wilayah ini dengan berjalan kaki, bersepeda hingga menggunakan tunggangan kendaraan bak terbuka milik warga sekitar, yang disulap menjadi angkutan dadakan.

“Sabtu (6/6/2020) kemarin, ada rombongan gowes (pesepeda) satu mobil penuh dari Garut,” ujar Ajat (45), warga lainnya yang berasal dari Cirorek, Kabupaten Garut.

Menurutnya, sejak diberi penguasaan kawasann hutan seluas 600 hektare dari pemerintah akhir tahun lalu, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang berasal dari dua kabupaten di sekitar kawasan curug Candung, langsung berbenah menyiapkan akses jalan ke kawasan wisata.

“Memang kendala utama adalah soal jalan yang belum diaspal,” kata dia.

Tak ayal sejak pertama kali dibuka buat umum, banyak pengunjung lebih memilih jalan kaki menuju kawasan curug, sambil menikmati sensasi hutan pinus.

“Lumayan capek, tapi terbayar keindahan alamnya, udaranya  juga masih sejuk dan alami,” ujar Rina (36), pengunjung asal Garut Kota.

Membawa belasan anggota keluarga besarnya, rombongan pengunjung asal kota dodol Garut itu tampak menikmati perjalanan. Sesekali terdengar canda tawa, siulan, dari anggota keluarga dalam perjalanan yang tengah mereka tempuh.   

Bahkan, di beberapa lahan kosong yang berada di bawah rindangnya pohon pinus, mereka sengaja menggelar tikar lebar, untuk menggelar makan besar bersama anggota keluarga.

“Ayo ke sini jika mau gabung, makanannya banyak,” ujar dia, mengajak Liputan6.com dalam rombongan mereka.

Menggunakan fasilitas sepeda downhill yang dipergunakan untuk track menanjak dan bebatuan khas pegunungan, kami menikmati betul perjalanan itu.

Kolaborasi bebatuan besar dan kecil di sepanjang jalan, yang menunjukkan belum tersentuhnya pembangunan, memberikan gambaran nyata masih alaminya kawasan Curug Candung.

“Track kawasan hutan pinusnya cocok dijadikan perlintasan sepeda,” ujar Aziz, anggota gowes mania dari Garut.

Bersama lima rekan sekantor lainnya, ia memilih jalur Curug Candung karena keindahan alamnya. Meskipun jalur yang dilalui masih bebatuan, tetapi terbayang suasana alam pegunungan yang asri di sekitarnya.

“Mungkin lebih baik jika pemerintah segera membuatkan jalur track buat pejalan kaki dan pesepeda,” ujar dia berharap.

Bahkan, tidak hanya pengunjung kawasan wisata curug, beberapa kelompok pecinta buruan hewan liar seperti rusa, babi dan lainnya, kerap menjadikan kawasan itu sebagai salah satu target kawasan perburuan mereka.

“Ada juga yang khusus camping di hutan pinus,” ujar Ajat menambahkan.

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here