[ad_1]

Jakarta, Selular.ID – Sejak 2012 industri selular memasuki titik jenuh. Saat itu jumlah SIM card yang beredar sudah berkisar 300 juta, melebihi populasi penduduk sebesar 265 juta jiwa. Tak dapat dipungkiri, pasar yang jenuh sebagai akibat dari banyaknya operator yang beroperasi.

Persaingan yang keras, pada akhirnya berujung pada negative growth pada akhir 2018 sebesar -6,4%. Ini adalah kali pertama industri telekomunikasi mobile tumbuh minus, sejak teknologi itu masuk ke Indonesia pada 1983.

Tuntasnya program registrasi pra-bayar pada 2018, membuat strategi operator berubah. Operator lebih fokus pada jualan yang produktif, agar bisa mendapatkan revenue yang maksimal dari high value costumer. Mereka tak lagi jor-joran mengejar pelanggan baru, yang kebanyakan tergolong butterfly costumer. Yaitu, pelanggan yang mudah berpindah hanya karena iming-iming bonus data.

Alhasil pertumbuhan pelanggan tidak semoncer tahun-tahun sebelumnya. Hingga kuartal ketiga 2019, operator umumnya masih mengalami kenaikan jumlah pelanggan, meski jumlahnya jauh menciut.

Telkomsel misalnya, punya 170,9 juta pelanggan, naik hanya 3 juta dibandingkan dengan kuartal II/2019. Meski demikian, kenaikan jumlah pelanggan tersebut, telah melampui target yang dicanangkan pada 2019.

Pertumbuhan pelanggan juga diraih Indosat Ooredoo. Tercatat jumlah pelanggan operator yang dimiliki pemerintah Qatar itu, naik tipis 2 juta pelanggan pada kuartal ketiga 2019 menjadi 58,7 juta, dibandingkan dengan kuartal dua 2019 sebesar 56,7 juta.

Jika Telkomsel dan Indosat tumbuh moderat, lain halnya dengan Smartfren. Pada 9 bulan pertama 2019 jumlah pelanggan operator yang berbasis di Jalan Sabang (Jakarta) itu, naik tajam sekitar 5 juta.

Sebelumnya, pelanggan Smartfren pada kuartal II/2019 berjumlah 17 juta. Namun angka tersebut meningkat menjadi 22 juta pada kuartal III/2019.

Adapun, jumlah pelanggan Hutchison 3 Indonesia tetap stagnan. Seperti halnya kuartal II/2019, jumlah pelanggan Tri Indonesia masih bertahan di angka 38 juta.

Berbeda dengan operator lainnya, jumlah pelanggan XL Axiata pada periode yang sama, tergerus 1,1 juta dibandingkan dengan kuartal II/2019 menjadi 55,5 juta pelanggan. Meskipun pelanggannya turun, perseroan mengaku kualitas pelanggannya di Q3-2019 membaik. Hal tersebut dilihat dari Average Revenue Per User (ARPU) yang mencapai Rp34.000 atau naik 10% secara Year on Year (YoY).

Meski menyisakan ruang pertumbuhan yang sempit, persaingan memperebutkan pelanggan sesungguhnya masih terbuka. Meroketnya konsumsi data, menunjukkan bahwa era second curve telah dimulai, menggantikan basic service (SMS dan voice) yang semakin menurun sejak beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, tumbuhnya generasi muda khususnya Gen Z yang doyan dengan hal-hal dan kebiasaan baru, membuat segmen pasar ini terbuka lebar. Namun untuk menggaet kelompok ini, terbilang tidak mudah. Pasalnya, Gen Z sekarang sangat tidak mau bergantung dan diatur dengan produk yang sudah ada. Mereka ingin menentukan sendiri, butuhnya apa dan kemudian memilih produknya.

Meski banyak produk prabayar yang ditawarkan oleh operator, namun pengguna tidak bisa mengatur produk yang ingin dibelinya sendiri. Pengguna hanya bisa memilih produk atau paket data yang sudah tersedia.

Agar tidak stagnan, operator berupaya mencari gebrakan baru. Memasuki kuartal ketiga 2019, operator mulai menawarkan layanan selular prabayar digital yang menawarkan fleksibilitas.

Tentu saja dengan harga layanan yang lebih terjangkau dan diklaim anti ribet. Saat ini sudah terdapat empat produk sejenis, dari tiga operator, masing-masing by.U (Telkomsel), Switch Mobile dan Power Up (Smartfren), serta Life On (XL Axiata).

Untuk mengetahui lebih jauh, saya mencoba merangkum profil keempat provider digital itu. Umumnya membidik segmen milenial, khususnya Gen Z. Generasi yang lahir pada kurun 1995 – 2010.

by.U (Telkomsel)

Sebagai operator selular terbesar di Indonesia, Telkomsel memiliki produk-produk prabayar yang sudah popular, seperti Simpati, Loop dan Kartu As. Meski demikian, Telkomsel tetap memperkenalkan produk baru, yakni by.U untuk menggaet generasi Z, kelompok milenial yang muncul setelah generasi Y.

Diluncurkan pada Kamis (10/10/2019), by-U bisa dibilang sebagai pionir produk prabayar digital di Indonesia. Berbeda dengan produk Telkomsel lainnya, by.U dibuat agar pengguna lebih fleksibel dalam menentukan paket data apa saja yang diinginkan. Dengan menggunakan by.U pengguna bisa memilih sendiri kuota aplikasi apa saja yang ingin dibeli dan digunakannya.

Meski sejajar dengan Simpati, Loop dan Kartu As, pengguna by.U dituntut untuk mandiri. Mereka perlu melakukan registrasi kartu hingga memilih kuota secara digital melalui aplikasi, bukan lewat gerai atau jalur konvensional.

Sebagai produk digital yang menyasar Gen Z, by.U menawarkan banyak fleksibilitas. Misalnya bebas mengisi kuota aplikasi mana saja yang akan digunakan. Meski demikian dalam menggunakan layanan ini, pengguna tetap harus menentukan terlebih dahulu berapa besar kuota utama yang ingin digunakan.

Saat ini by.U menyediakan tiga paket pilihan kuota utama yakni: – Yang Bikin Nyaman, dengan kuota utama 2GB, masa berlaku 3 hari, dibanderol dengan harga Rp9.000 – Yang Bikin Happy, dengan kuota utama 4GB, masa berlaku 7 hari, dijual dengan harga Rp20.000 – Yang Bikin Nagih, dengan kuota utama 10GB, masa berlaku 30 hari, dijual dengan harga Rp50.000

Setelah memilih kuota utama, pengguna bisa memilih kuota tambahan untuk digunakan pada aplikasi yang dikehendaki. Misalnya Instagram, YouTube, Spotify, Facebook, hingga Joox.

Menurut Trio Lumbantoruan, Vice President by.U, pihaknya kini sudah melayani distribusi starter pack di 386 kota dan kabupaten di Indonesia. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan saat pertama kali diluncurkan pada Oktober 2019 lalu yang hanya tersedia di Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok saja.

Hingga pertengahan akhir Juni 2020, by.U telah diunduh oleh sekitar 2,5 juta di Appstore & Google Playstore. Sebanyak 70% dari pengunduh itu, merupakan segmen Gen-Z yang berada pada rentang usia 15-25 tahun. Itu artinya by.U sudah sesuai dengan segmen yang dibidik.

Kini by.U tidak sendirian, beberapa pesaing sudah mencoba peruntungan di pasar yang sama. Menanggapi hal ini, Trio mengatakkan bahwa kehadiran kompetitor justru semakin memacu perusahaannya dalam melayani konsumen. Hal ini dilakukan agar konsumen semakin ‘betah’ dengan by.U.

“Munculnya kompetitor juga merupakan motivasi bagi by.U untuk terus berinovasi dalam menghadirkan produk dan layanan yang relevan bagi pelanggan, sekaligus meningkatkan pengalaman mereka dalam menggunakan by.U,” ujar Trio kepada Selular.

Switch Mobile dan Power-Up (Smartfren)

Tak ingin by.U melenggang sendirian, Switch Mobile pun siap meluncur ke pasar. Provider digital ini menyediakan koneksi internet seluler berbasis 4G LTE. Kehadiran Switch Mobile diumumkan dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Meski telah diperkenalkan kepada publik, Switch Mobile baru akan menyambangi pasar secara resmi pada pertengahan 2020. Saat ini Switch pun masih berstatus “beta”.

Bisnis Switch Mobile merupakan bagian dari Sinarmas Group. Operasionalnya bertumpu pada jaringan Smartfren yang sama-sama bernaung di bawah konglomerasi yang didirikan oleh taipan Eka Cipta Wijaya itu. Namun, Switch Mobile mengaku bukan anak usaha maupun hasil joint venture dengan Smartfren. Jadi layanan yang ditawarkan Switch Mobile, mirip dengan MVNO (Mobile Virtual Network Operator).

Menyasar generasi muda usia 17 tahun hingga 35 tahun, Switch dibuat dengan mengutamakan layanan kemudahan dan kenyaman “worry free”. Segmen ini tidak ingin khawatir terhadap jumlah kuota atau memperhatikan masa aktif kartu habis. Switch menawarkan fitur-fitur tersebut.

Konsep “worry free” ini diwujudkan dalam bentuk kuota darurat yang memungkinkan pelanggan Switch Mobile tetap terhubung ke internet meskipun kuota data utama sudah habis. Kuota darurat akan aktif secara otomatis di saat kuota pengguna telah habis. Switch Mobile mengklaim pengguna bakal tetap bisa melakukan chatting, atau browsing tanpa menggunakan paket, hingga masa aktif kartu habis.

Selain kuota darurat tadi, Switch Mobile turut menawarkan beberapa fitur lain, misalnya poin reward yang bisa ditukar dengan paket internet, bebas memilih jenis paket sesuai kebutuhan, dan nomor telepon yang bisa dipilih sendiri.

Guna melengkapi Switch Mobile, Smartfren juga memperkenalkan Power Up. Layanan prabayar digital yang juga menawarkan banyak kemudahan bagi pelanggan Smartfren.

Dirancang sebagai eksklusif membership plan yang mengutamakan metode keanggotaan dengan didasari paket utama yang memiliki masa aktif 168 hari, ketersediaan nomor favorit yang dapat dipilih oleh pelanggan, bonus kuota progresif yang didapatkan dari setiap transaksi pembelian paket add-on.

Dengan Power Up, pelanggan tidak perlu khawatir karena tidak akan kehilangan kuota dengan fitur data rollover. Mereka dapat mengatur sendiri pengalaman internet sesuai dengan kebutuhan.

Pelanggan akan diberikan dua pilihan kuota utama sesuai kebutuhan data. Serta tiga pilihan kuota add-on ditambah dengan bonus kuota progresif yang berlimpah hingga 3GB.

Live On ( XL Axiata)

Tak ingin ketinggalan kereta dengan operator lain, XL Axiata juga tengah menyiapkan produk prabayar digital yang dilabeli: Live On. Berbeda dengan XL Prabayar dan Axis yang digawangi langsung oleh XL Axiata, Live On bisa dibilang mirip dengan Switch Mobile. Jika Switch berjalan di jaringan milik Smartfren, Live On memanfaatkan jaringan XL Axiata.

Sebagai pendatang baru, Live On sudah memanfaatkan media sosial dan media komunitas untuk kampanye produk. Begitu pun dengan media-media mainstream, meski eksposurenya masih terbatas.

Walaupun publikasinya cukup lumayan, namun hingga saat ini Live On masih dalam penjajagan. Seperti halnya Switch Mobile, hingga saat ini Live On juga masih versi beta. Belum diketahui persis kapan produk prabayar digital yang memanfaatkan jaringan XL Axiata ini akan menyambangi pasar secara komersial.

Kehadiran Live On, sejatinya didasarkan pada banyaknya keluhan yang dialami pengguna saat mengakses akses internet lewat jaringan selular. Live On sudah memetakan sekitar 10 keluhan yang sering muncul. Keluhan-keluhan itu adalah:

  • Aturan penggunaan kuota yang ribet dan banyak aturan tersembunyi
  • Gembar-gembor unlimited, nyatanya pake batas wajar (FUP)
  • Internet mati gegara kuota habis tanpa pemberitahuan, ujung-ujungnya pulsa pengguna dipotong
  • Paket data nggak bisa diatur sesuai kebutuhan, ngasih kuota aplikasi random yang ujung-ujungnya gak kepake
  • Ngeblokir aplikasi tertentu yang pengen banget diakses
  • Sistem potong pulsa yang nggak jelas tanpa pemberitahuan
  • Customer service yang susah dihubungin dan yang ada malah suka ngeribetin
  • Sistem sedot kuota yang nggak transparan, udah beli kuota khusus streaming, yang kesedot malah kuota utama
  • Ngecoh pengguna untuk berlangganan SMS premium atau RBT tanpa sepengetahuan
  • Harga mahal tapi kuota yang didapat sedikit.

Layaknya perang urat syaraf, Live On menjamin pengguna bebas dari berbagai keluhan yang bikin bête itu. Dengan Live On, pengguna punya kuasa penuh atas paket data besar dan pengalaman digital yang sepenuhnya baru.

Untuk menarik minat konsumen, Live On bahkan tak segan memberikan paket data secara gratis selama satu tahun penuh. Provider digital ini menawarkan empat keunggulan layanan yang diklaim lebih baik dibandingkan operator lain.

Pertama, pengguna akan mendapatkan kuota internet yang besar dan tanpa batasan waktu. Kedua, Live On menawarkan kuota darurat yang dapat digunakan ketika pengguna kehabisan paket utama.

Ketiga, Live On memberikan kesempatan pengguna untuk mengatur sendiri paket internet sesuai kebutuhan. Dan keempat, pengguna akan mendapatkan layanan internet yang berkualitas.

Nah, buat yang penasaran dengan Live On, bisa mengunjungi aplikasi mereka di Google Play. Daftar langsung dan ajak teman-teman untuk bergabung. Semakin banyak teman-teman yang bergabung, poin bertambah banyak. Sehingga berpeluang dapat paket data gratis selama setahun. Mau?

[ad_2]
Berita hari ini akurat dan terpercaya temukan di NewsFor.ID Berita Untuk Indonesia.

News For Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here