[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta – Persoalan sampah menjadi perhatian berbagai kalangan saat ini, mulai dari akademisi, perusahaan, organisasi nirlaba, juga pemerintah, serta masyarakat. Peningkatan sampah juga terjadi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan adanya penggunaan layanan pesan antar.

“Dengan adanya¬† Covid-19 ini, kita sangat tergantung pada online atau layanan antar ke rumah. Mau tidak mau, itu semua menggunakan kantong plastik, termasuk saat kita beli barang elektronik,” ujar pakar teknologi lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, saat webinar ‘Menjaga Kesehatan Lingkungan Indonesia dari Rumah Saat New Normal‘ yang diselenggarakan Danone-Aqua, Kamis, 11 Juni 2020.

Bungkus barang elektronik itu, kata Enri, menggunakan plastik yang berlapis-lapis. Begitu juga saat beli barang yang lain, agar barang tidak pecah, harus dibungkus dengan busa dan plastik.

“Ini yang sekarang menjadi beban di rumah tangga. Kemasan-kemasan bertambah banyak. Semoga dengan normal kembali, kebiasaan untuk menggunakan plastik sekali pakai makin berkurang yang bisa dimulai dari rumah,” imbuh Enri.

Pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada konsep kumpul-angkut-buang, tetapi harus melibatkan semua pihak. Produsen, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk mengurangi sampah dengan inovasi kemasan dan model bisnis, contohnya dengan memilih produk dengan kemasan guna ulang yang bisa dikembalikan, termasuk galon guna ulang.

“Sebisa mungkin, konsumen perlu memilih produk yang sifatnya sirkular atau bisa dikembalikan agar jumlah sampah yang dihasilkan bisa ditekan. Selain itu, penting juga memilah sampah rumah tangga atau bahkan mengolah sampah organik di rumah untuk kegunaan lain seperti kompos misalnya,” ujar Enri.

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here