[ad_1]

Salatiga – Hidup di bekas kandang sapi tanpa penghasilan tetap, Sugiman mencoba bertahan hidup bersama istri Ika (32) dan tiga anaknya di tengah pandemi Corona.

Penghasilan pria 57 tahun itu semakin merosot di banding sebelum wabah menyerang Tanah Air. Malah, sering kali dia tak mendapat penghasilan. 

Saat ini, keluarganya bergantung pada penghasilan sang istri sebagai pembantu rumah tangga sebesar Rp 300.000 per bulan.

Ironinya, Sugiman mengaku tidak pernah mendapat bantuan pemerintah. Terlebih pada masa pandemi Corona ini. 

“Padahal, sekarang penghasilan menurun. Jarang sekali dapat order sejak pandemi corona,” tutur Sugiman yang tinggal di tengah perkebunan kayu sengon di RT 001/RW 005, Gedongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, seperti dilansir dari Solopos, Kamis (11/6/2020).

Dia mengaku pernah menanyakan kepada perangkat desa alasannya tidak menerima bantuan pemerintah. Pemerintah desa berdalih Sugiman dan keluarga miskin di Salatiga itu tidak memiliki kartu keluarga sesuai tempat tinggal di gubuk bekas kandang sapi itu.

“Jadi enggak dapat. Termasuk bantuan untuk warga yang terdampak corona, saya juga enggak dapat,” jelas Sugiman.

Kehidupan Sugiman dan keluarga makin sulit di tengah pandemi Corona lantaran ‘istananya’ itu jauh dari sumber air. Terlebih, saat ini, BMKG menyebut sebagian wilayah di Tanah Air sudah memasuki musim kemarau.

“Yang paling susah di sini itu air karena harus mengambil dengan jalan kaki sekitar 300 meter. Itu sebenarnya tandon warga Nanggulan untuk menyirami tanaman, tapi kami ambil buat keperluan sehari-hari,” terang Sugiman.

 

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here