[ad_1]

Jakarta, CNN Indonesia —

Mulut Haryadi bersungut-sungut sebelum memasuki peron di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/7) pagi. Meski mengenakan masker, ia tak mampu menyembunyikan wajah kesalnya saat diminta petugas untuk mengantre ulang ke belakang.

Pagi itu, ia sebenarnya sudah mengantre sekitar pukul 06.00 WIB.Hampir 30 menit mengantre, Hariyadi telah berada di barisan depan sebelum memasuki peron.

Sial datang tak kompromi. Saat peron tinggal sepelemparan mata, Haryadi kebelet buang air besar (BAB). Tak tahan ia pun pergi ke toilet.

“Saya tadi ke toilet bentar, cuma enggak bilang ke petugas. Waktu balik masa diminta antre ke belakang lagi,” kata dia kepada CNNIndonesia.com di Stasiun Bogor, Selasa (7/7).

Antrean penumpang di Stasiun Bogor pada Selasa pagi ini memang cukup panjang. Sejak pukul 05.15 WIB, stasiun ini sudah ramai dipadati penumpang.

Di stasiun ini, antrean penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter line dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, antrean penumpang yang berada di luar stasiun.

Bagian kedua, antrean penumpang yang berada di dalam stasiun. Penumpang diminta berbaris sebelum mengetap kartu.

Kemudian bagian ketiga, antrean sebelum memasuki peron. Penumpang baru boleh masuk ke peron saat kereta telah tersedia. 

Haryadi sudah berada di bagian ketiga saat diminta petugas untuk mengantre lagi. Artinya, sudah tiga fase antrean dia jalani sejak mengantre sekitar pukul 06.00 WIB. Karena hal itu, ia pun tak mau mengulang antrean.




Antrean calon penumpang yang ingin menggunakan transportasi umum Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter line terjadi di Stasiun Bogor, Senin (7/7) pagi.Antrean di Stasiun Bogor, Selasa (7/7) pagi. (CNN Indonesia/ Yogi Anugrah)

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan petugas lainnya, ia diizinkan mengantre di bagian ketiga, sebelum memasuki peron. Haryadi sedikit lega karena tak harus mengantre dari bagian pertama, namun gerutunya tetap keluar.

“Kalau dari luar berarti harus lebih lama lagi antre, nge-tap kartu lagi kan,” kata dia.

Pria paruh baya ini mengaku baru pertama kali mengalami hal tersebut. Selama bolak-balik menggunakan KRL Bogor-Manggarai saat penerapan PSBB, ia tak pernah meninggalkan antrean.

“Baru pertama ini ke toilet waktu antre, makanya saya bingung diminta antre dari belakang lagi,” kata dia.

Selain Haryadi, salah satu warga Bogor yang saban hari menggunakan KRL untuk beraktivitas adalah Rama Aditya. Pria berusia 27 tahun ini bekerja di bilangan Jakarta Selatan.

Menurutnya, selama menggunakan KRL saat PSBB, hari Senin adalah waktu saat antrean di Stasiun Bogor bisa sangat panjang.

Saat ditemui CNNIndonesia.com, Rama juga tengah mengantre di bagian luar stasiun. Namun menurutnya antrean hari ini, tidak seramai pada Senin (6/7) lalu.

Ia menyebut pada Senin lalu antrean di bagian luar stasiun dibuat panjang dan berputar.

“Kalau Senin ramai mungkin karena orang-orang ada yang pulang ke Bogor sekali seminggu, terus Seninnya balik ke Jakarta,” kata dia kepada CNNIndonesia.com.

Antrean penumpang yang panjang pada Senin lalu, memang sempat disinggung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya.

Saat melakukan pantauan di Stasiun Bogor, ia menyebut penumpang harus mengantri di luar stasiun selama 1,5 hingga 2 jam untuk masuk ke dalam gerbong.

Menurutnya, penumpukan di stasiun Bogor itu disebabkan oleh banyaknya sektor-sektor di Ibu kota yang sudah dibuka. Di sisi lain, kapasitas gerbong KRL masih dibatasi.

Karena hal itu, ia mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk melonggarkan aturan terkait operasional KRL. Caranya dengan menambah kapasitas penumpang dalam gerbong kereta.

Dengan penambahan itu, kata dia, akan mengurangi antrean penumpang yang ada di stasiun.

“Menambah kapasitas gerbong kereta dengan protokol kesehatan yang lebih ketat,” kata dia dalam instagram resminya, Senin (6/7).

(yoa/wis)

[Gambas:Video CNN]



[ad_2]
Berita hari ini akurat dan terpercaya temukan di NewsFor.ID Berita Untuk Indonesia.

News For Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here