[ad_1]

Jakarta

Saham Amerika Serikat (AS) berangsur pulih setelah anjlok akibat virus Corona (COVID-19). Pada hari Senin S&P 500 menghapus kerugian 2020, pada hari Rabu Nasdaq Composite ditutup di atas 10.000 yang artinya menembus rekor untuk pertama kali. Sedangkan Indeks Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan sebelum turun selama perdagangan Kamis pagi.

Saham AS yang berangsur pulih ini terjadi ketika para pejabat menyatakan bahwa AS memasuki resesi pada Februari. Sementara para ahli mendefinisikan resesi sebagai periode penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) yang signifikan selama dua kuartal berturut-turut.

Organisasi Riset Nirlaba Swasta, National Bureau of Economic Research mengatakan pergerakan saham tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya justru menunjukkan sebagai resesi. Lalu, mengapa jika kita dalam resesi pasar saham malah melonjak?

Direktur Makro Global Fidelity Investments, Jurrien Timmer mengatakan pasar saham memang cenderung menjadi indikator utama perekonomian. Tetapi pasar saham AS bergerak di luar fakta ekonomi sektor riil yang ada.

“Biasanya pasar akan mulai menurun sebelum resesi terlihat dan akan mulai pulih sekitar empat bulan sebelum akhir resesi,” katanya dilansir CNBC, Jumat (12/6/2020).

Itulah sebabnya saham tampak terputus dari fundamental ekonomi seperti PDB, pekerjaan dan inflasi. Pasar saham mulai turun pada bulan Februari, tetapi para ahli mengatakan puncak pengangguran hingga Mei.

Kepala Strategi Investasi Schwab, Liz Ann Sonders menyebut pasar saham memiliki rekam jejak yang baik untuk ‘mengendus’ situasi ekonomi yang buruk. Tetapi tidak sempurna, ada wilayah yang belum dipetakan selama resesi yang disebabkan oleh virus Corona.

“Kita tidak pernah mengalami penghentian ekonomi secara penuh oleh mandat pemerintah dalam sejarah. Jadi kita tidak dapat kembali dan melihat berapa lama resesi yang dihasilkan berlangsung,” ucap Sonders.

Hal-hal yang tidak diketahui itu menyebabkan beberapa lonjakan pasar menjadi liar. Pasar saham tercatat rebound yang belum pernah dilihat sebelumnya.

“Kami bergerak dari level tertinggi sepanjang masa pada 19 Februari menjadi 35%, pada 23 Maret pada rekor tertinggi. Pergerakan tercepat dari level tertinggi sepanjang masa untuk menghasilkan wilayah pasar dalam sejarah,” kata Sonders.

Simak Video “Terpukul Virus Corona, Ekonomi Jepang Menuju Jurang Resesi
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here