[ad_1]

Jakarta, CNN Indonesia — Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta Timur masih beroperasi, meski masuk dalam daftar 19 pasar yang ditutup Pemprov DKI Jakarta karena diduga menjadi tempat penyebaran virus corona.

Dari pantauan CNNIndonesia.com pada Minggu (14/6) pagi, sejumlah pedagang di area luar pasar masih berjualan dan melayani pembeli tanpa adanya protokol kesehatan yang ketat.

Imbauan jaga jarak minimal satu meter antar pedagang terpantau tak efektif, karena tak ada penanda atau garis pembatas.

Pemeriksaan kesehatan juga terlihat renggang. Pengecekan suhu tubuh menggunakan thermal scanner, serta tempat cuci tangan bagi pengunjung hanya berada di pintu masuk sebelah barat pasar.

Berbeda dengan kondisi di bagian luar pasar, mayoritas toko yang berada di bagian dalam Pasar Induk Kramat Jati tutup.

Wanto, salah satu pedagang sayuran, tersebut mengatakan operasional pasar tak pernah berhenti meski ada kekhawatiran penularan virus corona.

Beberapa pedagang memang menutup sementara lapaknya, tapi sebagian besar memilih tetap berjualan karena butuh pemasukan.

“Toko-toko emas, baju beberapa memang tutup terutama di lantai yang atas. Tapi kalau dagang sayuran daging sembako itu buka terus,” ucapnya.

Dari pengeras suara di beberapa sudut pasar, terdengar pengumuman dari pengelola bahwa sistem ganjil genap bagi para pedagang baru akan diterapkan mulai Senin (15/6).

Pengelola pasar juga menyampaikan bahwa akan dilakukan tes rapid dan tes swab gratis kepada para pedagang pada hari Rabu (17/6) pekan depan untuk mengetahui kondisi persebaran Covid-19 di Kramat Jati.

Kemarin (13/6) pagi pasar Induk Kramat Jati sempat dikunjungi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam rangka pemantauan protokol kesehatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi.

Anies, melalui akun resmi Instagram-nya, mengatakan lalu lintas pengunjung pasar diatur menjadi satu arah untuk menghindari terjadinya kerumunan.

Di samping itu ia juga memastikan kios beroperasi ganjil genap.

“Jadi kios ganjil beroperasi pada tanggal ganjil, dan kios genap beroperasi tanggal genap,” tulisnya.

Rani, salah satu pengunjung di pasar Kramat Jati mengaku tak khawatir berbelanja karena kondisi pasar tak seramai sebelum PSBB diterapkan di DKI Jakarta.

Warga Pondok Gede itu tak hanya membeli kebutuhan harian, melainkan juga barang dagangan grosir untuk dijual kembali di warung yang ia buka di rumahnya.

“Terakhir belanja grosir sebelum lebaran. Sekarang belanja lagi karena udah abis beberapa barang. Kalau buat rumah tangga kadang-kadang tiga hari sekali ke sini,” tuturnya.

(hen/ard)

[Gambas:Video CNN]



[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here